BeritaKalimantan Barat

Bupati Kayong Utara Buka Suara soal Kritik Publik: Rapat Bukan Seremonial Kosong, Jalan Butuh Proses

515
×

Bupati Kayong Utara Buka Suara soal Kritik Publik: Rapat Bukan Seremonial Kosong, Jalan Butuh Proses

Sebarkan artikel ini

Respons Terbuka atas Kritik Warga di Media Sosial

KAYONG UTARA | DETIKREPORTASE.COM – Bupati Kayong Utara, Romi Wijaya, S.Sos., M.Si, akhirnya angkat bicara menanggapi kritik masyarakat yang ramai disuarakan melalui media sosial, khususnya Facebook, pada Sabtu malam (29/11/2025). Kritik tersebut menyoroti anggapan bahwa aktivitas pemerintah daerah hanya dipenuhi rapat, pertemuan, dan kegiatan seremonial, sementara persoalan infrastruktur jalan dinilai belum tersentuh secara nyata.

Melalui akun Facebook pribadinya, Romi Wijaya menyampaikan penjelasan secara terbuka dan lugas. Ia menegaskan bahwa kritik publik merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat, sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah daerah untuk terus berbenah. Namun, ia juga meluruskan persepsi yang menurutnya kurang tepat mengenai peran rapat dan pertemuan dalam roda pemerintahan.

“Hak masyarakat untuk mengkritik tentu kami hargai. Tapi perlu juga dipahami, tidak semua proses kerja pemerintah terlihat secara kasat mata,” tulis Romi dalam unggahannya.

Rapat Adalah Proses, Bukan Sekadar Formalitas

Menanggapi tudingan bahwa rapat dan seremonial merupakan kegiatan yang tidak berdampak langsung bagi masyarakat, Romi Wijaya menegaskan bahwa rapat justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pengambilan kebijakan publik. Menurutnya, hampir seluruh keputusan strategis pemerintah bermula dari forum-forum resmi tersebut.

Ia mencontohkan pembahasan anggaran, penetapan APBD, perencanaan pembangunan, hingga sinkronisasi program lintas sektor yang semuanya membutuhkan rapat dan koordinasi intensif. Forum tersebut juga menjadi ruang untuk menyerap aspirasi masyarakat sebelum diterjemahkan menjadi program kerja.

“Kalau rapat, pertemuan, dan forum diskusi saja dianggap bukan bagian dari kerja, maka proses perencanaan dan pengambilan keputusan akan kehilangan dasar,” ujarnya.

Romi menambahkan, seremonial pun tidak selalu bermakna formalitas kosong. Dalam banyak kegiatan, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat juga menjadi simbol tanggung jawab dan komitmen negara dalam melayani rakyat.

Kondisi Jalan Diakui Rusak, Tapi Tak Bisa Instan

Soal infrastruktur jalan yang menjadi sorotan publik, Romi tidak menampik adanya banyak ruas jalan di Kayong Utara yang mengalami kerusakan. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan masalah baru dan tidak mungkin diselesaikan secara instan, terlebih masa kepemimpinannya baru berjalan sekitar sepuluh bulan.

“Kami dipilih untuk masa jabatan lima tahun. Artinya, ada tahapan dan proses yang harus dijalankan secara realistis dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan jalan membutuhkan perencanaan matang, mulai dari telaah teknis, ketersediaan anggaran, hingga tahapan penganggaran yang harus sesuai regulasi. Pemerintah daerah, lanjut Romi, tidak bisa serta-merta memperbaiki seluruh ruas jalan sekaligus tanpa melanggar aturan.

Keterbatasan Anggaran dan Skala Prioritas

Lebih jauh, Bupati Kayong Utara juga menyinggung kondisi keuangan daerah yang relatif terbatas. Menurutnya, ruang fiskal APBD Kayong Utara belum cukup kuat untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan secara bersamaan.

Untuk itu, pemerintah daerah terpaksa menerapkan skala prioritas. Pada tahun anggaran berjalan, porsi anggaran lebih banyak dialokasikan untuk sektor kesehatan dan pendidikan yang merupakan hak dasar masyarakat dan menyangkut pelayanan publik yang bersifat mendesak.

“Kami harus memilih mana yang paling urgent. Kesehatan dan pendidikan adalah fondasi utama. Infrastruktur jalan tetap menjadi prioritas, tetapi harus bertahap,” jelasnya.

Romi juga menekankan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi melalui koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat agar pembangunan infrastruktur di Kayong Utara dapat dipercepat.

Ajakan Bijak dan Kritik yang Membangun

Di akhir pernyataannya, Romi Wijaya menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan kritik dan saran. Ia menilai kritik yang disampaikan secara konstruktif justru menjadi energi positif bagi pemerintah daerah untuk terus memperbaiki kinerja.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemerintah daerah bukanlah sosok “superman” apalagi memiliki “lampu Aladin” yang bisa menyulap semua persoalan selesai dalam sekejap. Dibutuhkan proses, waktu, dan dukungan bersama agar pembangunan berjalan berkelanjutan.

“Mari sama-sama menjaga semangat kebersamaan. Kritik itu penting, tapi kebijaksanaan dalam menyikapi keadaan juga tidak kalah penting,” pungkasnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal terbuka bahwa Pemerintah Kabupaten Kayong Utara siap berdialog dengan masyarakat, sembari terus menjalankan pembangunan secara bertahap sesuai kemampuan dan aturan yang berlaku.

✍️ Slamet | detikreportase.com | Kayong Utara – Kalimantan Barat
DETIKREPORTASE.COM : Mengawal Kebijakan, Menjaga Akal Sehat Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250