BeritaNusa Tenggara Timur

Maria Dara Sintani: Gadis Lajang Ini Rawat Anak Berkebutuhan Khusus dengan Cinta, Tak Anggap Beban!

773
×

Maria Dara Sintani: Gadis Lajang Ini Rawat Anak Berkebutuhan Khusus dengan Cinta, Tak Anggap Beban!

Sebarkan artikel ini
Wanita yang rawat anak autis penuh cinta dan tak menganggap jadi beban di NTT
Fhoto Maria Dara Sintani

SİKKA, NTT – DETİKREPORTASE.COM

Merawat Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) bukan perkara mudah. Tapi bagi Maria Dara Sintani (23), itu justru jadi sumber rahmat dan jalan panggilan hidup. Kisah dara asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini menyentuh hati siapa saja yang mengenalnya: lajang, belum menikah, tapi mengasuh anak-anak dengan keterbatasan dengan sepenuh hati dan cinta yang tulus.

Awalnya karena Beasiswa, Berlanjut Jadi Panggilan Hidup

Maria Dara Sintani mengaku tak pernah menyangka akan menjadi pendamping ABK. Saat kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang, Jawa Timur pada 2019, Dara datang sebagai mahasiswa penerima beasiswa ikatan dinas.

“Salah satu syarat agar saya bisa lanjut kuliah adalah harus tinggal dan mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus,” ungkap Dara saat ditemui oleh DetikReportase.com pada Senin (23/6/2025).

Alih-alih mengeluh, dara bungsu dari pasangan Witerman dan Idah ini justru menjalaninya dengan sukacita. “Saya jalani dengan hati terbuka. Awalnya saya pikir bakal berat, tapi karena dijalani dengan cinta, semua terasa ringan,” lanjutnya.

“Seperti Merawat Anak Sendiri”

Enam tahun sudah Dara mengabdi di Yayasan Bhakti Luhur Malang, sebuah tempat pendidikan dan pengasuhan bagi ABK. Ia bertugas sebagai guru agama, katekis, sekaligus guru kelas tunagrahita. Semua peran itu dijalaninya dengan penuh ketulusan.

“Walau saya masih muda, belum menikah, belum punya anak, tapi saya rawat anak-anak ini seperti anak saya sendiri,” ucap Dara dengan suara bergetar.

Baginya, merawat ABK bukan sekadar pekerjaan, tapi bagian dari kehidupan spiritual. Ia yakin bahwa setiap anak istimewa yang didampinginya adalah sumber berkat.

Tulus Itu Kunci, Cinta Itu Energi

“Kalau tidak tulus, pasti merasa terbebani. Tapi kalau kita mencintai mereka dengan tulus, semua terasa ringan. Justru mereka memberi energi yang luar biasa,” jelas jebolan Prodi Pelayanan Pastoral itu.

Bersama anak-anak tunagrahita, Dara belajar banyak tentang kesabaran, pengorbanan, dan nilai kemanusiaan. “Kasih sayang tidak selalu berasal dari hubungan darah. Ketulusan itu membuktikan bahwa siapa pun bisa jadi orang tua, asalkan bersedia membuka hati,” tambahnya.

Pesan untuk Orang Tua: Jangan Menyerah, Kita Bisa Bersama-Sama

Dara juga memberikan pesan menyentuh bagi orang tua ABK di luar sana. Ia tahu betapa beratnya tantangan yang dihadapi, tapi ia percaya bahwa dengan kerja sama antara orang tua, guru, dan terapis, ABK bisa menjadi pribadi yang mandiri dan berguna.

“Jangan larut dalam keputusasaan. Ayo bangkit dan bersinergi. Jangan takut meminta bantuan, karena kita semua satu tujuan: membantu anak-anak ini tumbuh dengan penuh cinta,” tuturnya dengan tegas namun penuh kelembutan.

Perempuan Muda, Hati Tangguh

Maria Dara Sintani adalah cermin bahwa kasih sayang tak mengenal batas usia maupun status. Di balik tubuh mungilnya, tersimpan ketangguhan seorang ibu sejati—yang mungkin belum melahirkan secara biologis, tapi sudah memberikan hidupnya untuk anak-anak yang paling membutuhkan perhatian.

Namanya mungkin tak banyak dikenal, tapi dampaknya terasa nyata dalam setiap senyum dan perkembangan anak-anak yang ditanganinya. Dalam dunia yang semakin individualistik, kisah Dara adalah pengingat bahwa kemanusiaan masih hidup—lewat tangan-tangan penuh cinta yang bekerja dalam diam.

Yuven Fernandez✍️
DetikReportase.com – Sikka, Nusa Tenggara Timur
DetikReportase.com: Cerita Kemanusiaan yang Menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250Example 728x250